Kerikil Kecil

Standard

Ingin berbagi cerita sedikit, berdasarkan refleksi dari hal yang terjadi sehari-hari. Jadi ceritanya, saya termasuk tipikal orang yang kurang hobi beli sepatu kecuali perlu-perlu amat. Nah berhubung pergi ke tempat kerja sekarang naik angkutan umum, jadi adalah satu sepatu yang hobi dipake. Namun sayangnya, sepatu ini udah digolongkan sepatu berumur. Maksudnya, udah cukup lama dipakai dan karena bahannya karet, plastik ato apalah itu material yang cukup ngetrend sekarang. Haha. Sepatu ini di bawahnya ada bolong-bolong kecil. Belakangan ini, saya merasa kalo jalan itu nginjek batu berasa banget. Saya pikir itu karena sepatunya udah tipis. Sudah berpikir mau ganti sepatu baru sampai pas lihat ke bawah sepatu, eh ada kerikil kecil nyempil di bolongan itu. Itu susah banget dikeluarin, dan ternyata di bolongan-bolongan lain banyak batu-batu kecil.

Akhirnya saya berpikir lewat hal kecil tadi. Terkadang kita ketika menemukan masalah yang besar dan melukai atau mengganggu kita, kita merasa bahwa lingkungan sekitar yang membuat masalah itu. Namun kita tidak menyadari bahwa mungkin saja masalah-masalah itu muncul sebenarnya karena di dalam diri kita sendiri. Bolongan-bolongan itu mungkin dapat mewakili bahwa kita sering membuka diri kita pada sesuatu tanpa kita saring terlebih dahulu. Pada akhirnya hal-hal ini yang membuat masalah dalam hidup kita. Misalnya, kita sering mendengar cerita-cerita negatif tentang sesuatu hal. Akhirnya cerita-cerita ini tanpa kita saring kembali mempengaruhi pemikiran kita dan kemudian membuat kita jadi negatif menanggapi suatu hal.

Coba deh dipikir-pikir.. Jangan sampai proses ngeluarin batu itu melukai kita. Kemarin ini saya musti korek-korek pake pinset dan jarum. Ada yang bisa keluar ada yang engga. Mungkin kalo si sepatu bisa protes, dia pasti udah meringis kesakitan..

Jangan Main Jauh-jauh, Nak..

Standard

Teringat kalimat ini yang sering diucapkan seorang ibu kepada anaknya yang tengah asyik bermain di luar rumah. Terkadang si anak asyik sendiri sehingga melupakan batas. Misalnya asyik mengejar kupu-kupu dan ternyata sudah jauh meninggalkan rumah. Saat itu ketika ia tidak tahu arah jalan pulang, mungkin ia menangis sendirian. Sampai pada akhirnya, sang ibu berlari-lari mencari anak itu dan membawanya kembali pulang. Read the rest of this entry

Quote

“We are each on our own journey. Each of usis on our very own adventure; encountering all kinds of challenges, and the choices we make on that adventure will shape us as we go; these choices will stretch us, test us and push us to our limit; and our adventure will make us stronger then we ever know we could be.” – Aamnah Akram

“We are each on…

Cintai Mereka Seperti Kristus

Standard

Baru-baru ini, saya menemukan sebuah video klip yang berjudul “Love Them Like Jesus“. Lalu setelah menonton video ini jadi tersentuh. Betapa sering kali kita terbuai dengan yang namanya kalau saya sebut “world wisdom“. Saya men-follow beberapa akun di twitter yang sehubungan dengan ini. Banyak sekali twit dari mereka yang menuliskan untuk meninggalkan mereka yang tidak menghargai kita, mereka yang tidak menyayangi kita. Kita seperti diajari untuk mencintai dan menghargai hanya mereka yang menghargai kita. Saya tidak bilang apa yang dikatakan salah sepenuhnya. Ada kalanya memang kita perlu menghargai diri kita sendiri karena terkadang kita jatuh, menghilangkan diri kita yang sebenarnya demi orang lain yang tidak melihat betapa berharganya kita.

Walau begitu, saya ingin melihat dari sisi yang lain. Coba lihat di sekeliling kita, betapa banyaknya orang yang terlupakan, orang yang tersisihkan. Mereka yang tidak dipandang di mata masyarakat. Mungkin karena status ekonomi, sosial ataupun kondisi fisik dan mental mereka. Tidak jauh dari itu, banyak di antara sesama kita yang mungkin sedang dalam pergumulan berat ataupun sakit penyakit yang tidak kunjung sembuh. Banyak diantara mereka yang menyimpan rapat pergumulan itu sampai ada seseorang yang benar-benar peduli.

Kita tidak mungkin memahami setiap orang dengan seutuhnya. Kita tidak mungkin benar-benar mengerti perasaan ataupun masalah mereka. Namun, satu hal yang kita dapat lakukan adalah ada untuk mereka. Tidak perlu banyak menasehati ataupun menggurui. Hadirlah dan bawa mereka untuk menyerahkan semua pergumulan mereka kepada Tuhan.

Jadilah seperti Kristus, yang mencintai setiap dari kita. Apapun kondisi kita, seperti apapun latar belakang kita. Sebuah kasih tanpa syarat. Bayangkan jika setiap orang mampu mengasihi orang lain tanpa memandang mereka.

Just love them like Jesus

Referensi: http://www.youtube.com/watch?NR=1&feature=endscreen&v=C6OYmmMicsA

Live As A Therapist

Standard

Aku bangun pagi ini, melirik smartphone ku dengan tujuan mengecek jam. Ya, lagi-lagi aku bangun sebelum weker berbunyi. Sekiranya aku bangun karenanya, itu pasti karena aku terbangun paling lama satu jam sebelum jam bangunku yang seharusnya.

Berdoa dalam hati, semoga hari ini semuanya lancar dan mudah. Aku memang belum lama seperti teman-temanku yang lain yang bekerja di bidang ini. Usiaku juga dapat dibilang masih muda. Jarang ada yang tertarik dalam bidang ini sepertiku. Ah sudah, aku bergegas mengambil baju dan handuk lalu beranjak menikmati mandi pagi. Sedikit mengecek keadaan jalanan lewat media sosial sebelum akhirnya aku beranjak duduk di kendaraan.

Senyuman dan sapaan pagi hari teman-teman sedikit banyak mencerahkan hati. Aku sedikit terlambat hari ini dan cuaca sangat panas. Teman-teman sudah memulai renungan pagi dan hendak masuk ke dalam doa syafaat. Selalu ada perkataan meminta Tuhan menolong dan memberkati sepanjang hari ini. Ya, sekali lagi, bidang ini bukan bidang yang mudah.

Muridku tak banyak hari ini. Ini hari paling lenggang dibandingkan hari lainnya. Aku memilih menghabiskan waktuku mengerjakan program individual anak semester genap tahun depan. Istilah asingnya Individualized Therapeutic Program. Di ruanganku, temanku harus memegang beberapa anak sehingga aku tak ingin mengganggu. Aku turun dan memilih perpustakaan untuk bekerja karena ruang workshop sedang rusak pendingin udaranya sehingga tak menjadi pilihan yang menyenangkan.

Sesekali aku bercanda dan bercerita kepada dua temanku yang ada di situ. Terkadang aku juga bertanya kepada mereka, apa yang menyebabkan mereka mau bergabung di bidang ini. Aku juga teringat suatu masa ketika aku mempresentasikan sebuah program edukasi musik kepada pengurus musik di gereja. Ada satu pertanyaan yang jujur sampai kini aku tak tahu jawabannya. Pertanyaannya sederhana, “Mengapa kamu, di usia yang masih terbilang muda, mau bekerja pada bidang ini?” Om ini bertanya setelah mendengar presentasiku yang penuh dengan cerita pengalaman. Orang ini adalah sebuah direktur perusahaan besar. Saat ini, aku terdiam sebentar dan hanya menjawan, “Saya tidak tahu kenapa Tuhan memanggil saya di bidang ini, tapi saya rasa inilah yang Tuhan ingin saya kerjakan.”

Tiba-tiba teriakkan kencang terdengar dari samping ruangan. Sontak kami saling melempar pandang, siapa yang marah itu. Lalu kemudian menganalisa guru yang ada bersama dengan sang anak. Setelah itu kami sedikit lebih tenang dan melanjutkan aktivitas kami. Tak berapa lama salah satu temanku dipanggil temanku yang lain. “Sudah jam 11.15, Bu.. Kelambatan 5 menit itu.” Aku ikut membereskan barang-barang dan masuk ke ruang audio visual. Kutemukan muridku dan temannya sedang duduk menonton. “Wah cantik sekali kamu hari ini, rambutnya dikuncir dua.” Kupuji muridku yang hari itu rambutnya berbeda. Akan kutemui dia hari itu jam satu.

Makan siang berlangsung cukup nikmat. Sajian hari ini sangat melimpah dan enak. Aku lalu berpikir apakah ada pertemuan atau rapat hari ini. Ternyata tidak ada. Hanya ada nanti sore. Aku melanjutkan santai sore sambil menunggu jam satu.

Kuajak muridku naik ke lantai tiga untuk mengikuti terapi musik. Perlahan ia menaiki tangga, tapi sudah jauh lebih cepat dari dua tahun lalu. Ia kemudian mengetik di gadgetnya mengenai ceritanya pergi dengan mama hari Sabtu kemarin. Ia lalu bertanya apakah aku sudah makan dan apakah makanannya enak. Ia lalu meminta bermain biola bersama. Setelah bermain biola, ia mengetik sesuatu yang membuatku geli sendiri. Ia berkata, “Bu tau ga masih utang A*** buat lagu tentang tupai”. Memang beberapa minggu lalu aku memintanya membuat lirik dan berjanji untuk membuatkannya menjadi lagu. Aku sudah berjanji dengan temanku yang tergabung dalam tim musik untuk membuatkannya lagu. Akhirnya aku membuatkannya saat itu juga dan melihatnya senang serta ikut bernyanyi walau pelafalannya jauh dari kejelasan.

Setelah selesai, aku menulis buku penghubung dan mengijinkannya bermain piano. Ia bermain piano sambil bersenandung yang kalau kudengarkan seksama, sepertinya lagu “London Bridge” atau lagu tentang tupai tadi itu. Aku hanya menatapnya dan memperhatikannya dengan seksama. Ya, muridku jauh berkembang dari pertama kali memegangnya. Ia didiagnosa down syndrome trisonomy 21. Lalu aku tersenyum dan mengajaknya turun. Ia senang sekali dan tertawa-tawa.

Tak lama aku harus membantu kelas. Mereka sebagian besar menderita cerebral palsy. Mereka sedang belajar membuka dan memasang baju serta mengenal huruf. Setelah selesai, aku harus membantu dalam ensamble musik. Murid yang kupegang sebenarnya sudah bisa tetapi hari itu sepertinya kurang fokus. Ya beginilah anak-anak ini kataku dalam hati.

Sore itu ditutup dengan pertemuan besar dimana mempresentasikan konsep acara natal. Lucu dan menyegarkan sekali melihat teman-teman yang menggantikan murid-murid untuk mencoba drama itu. Kami memang harus berjuang lebih keras untuk memikirkan acara dimana anak-anak bisa terlibat tetapi juga berkonsep baik.

Waktu sudah setengah enam lewat ketika akhirnya kami pulang. Senang rasanya mendapatkan satu burger sebagai “oleh-oleh”. Ah aku lelah sekali hari ini tetapi aku tidak lelah hati. Hanya lelah fisik. Begitulah pekerjaanku. Aku seorang terapis musik untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Aku juga mengajar di kelas musik mereka serta membantu sebagai prompter di beberapa kelas.

Aku tahu pekerjaanku berat dan banyak harga yang harus kubayar. Tetapi bukankah hidup akan lebih bermakna ketika kita menyentuh mereka-mereka yang luar biasa dan mungkin tersisihkan? Bukankah hidup menjadi berharga ketika kita bisa menyentuh kehidupan orang lain?

Pssttt.. Aku harus tidur. Besok aku harus berangkat lagi! :)

God’s Best Gift

Standard

Hari ini baru aja baca satu quote yang benar-benar menegur sekaligus menginspirasi. Topiknya adalah tentang “hadiah”.

Jika seseorang sangat spesial buat kita, kita biasanya akan cari kado yang paling spesial juga untuk dia. Entah kado itu adalah kado yang buatan sendiri, mahal ataupun sesuatu yang ia butuhkan. Terkadang kita rela untuk kerja lebih keras untuk mencari atau bahkan membuatnya. Disini yang terpenting teman kita atau orang spesial ini senang. Biasanya kalau hanya untuk sekedar acara tukeran kado ga bakal sampai sebegitunya yah.

Lalu, apa jadinya ketika kita sudah berusaha keras seperti itu, ternyata orang yang spesial itu tidak menghargai, kecewa, kesal, marah-marah atau bahkan menolak hadiah kita? Rasanya, kita semua akan merasakan hal yang sama. Sedih, kecewa dan bahkan berpikir tidak akan kasih hadiah lagi.

So, ever think that we are very special person to God? Ever think that our life is God’s best gift to us? Kira-kira bagaimana ya perasaan Tuhan kalau kita mengeluh, depresi, marah-marah, kecewa atau bahkan sedih sama hidup yang Dia sudah beri?

 

Be thankful, live fully, and minimize complaining. :)