Aku bangun pagi ini, melirik smartphone ku dengan tujuan mengecek jam. Ya, lagi-lagi aku bangun sebelum weker berbunyi. Sekiranya aku bangun karenanya, itu pasti karena aku terbangun paling lama satu jam sebelum jam bangunku yang seharusnya.
Berdoa dalam hati, semoga hari ini semuanya lancar dan mudah. Aku memang belum lama seperti teman-temanku yang lain yang bekerja di bidang ini. Usiaku juga dapat dibilang masih muda. Jarang ada yang tertarik dalam bidang ini sepertiku. Ah sudah, aku bergegas mengambil baju dan handuk lalu beranjak menikmati mandi pagi. Sedikit mengecek keadaan jalanan lewat media sosial sebelum akhirnya aku beranjak duduk di kendaraan.
Senyuman dan sapaan pagi hari teman-teman sedikit banyak mencerahkan hati. Aku sedikit terlambat hari ini dan cuaca sangat panas. Teman-teman sudah memulai renungan pagi dan hendak masuk ke dalam doa syafaat. Selalu ada perkataan meminta Tuhan menolong dan memberkati sepanjang hari ini. Ya, sekali lagi, bidang ini bukan bidang yang mudah.
Muridku tak banyak hari ini. Ini hari paling lenggang dibandingkan hari lainnya. Aku memilih menghabiskan waktuku mengerjakan program individual anak semester genap tahun depan. Istilah asingnya Individualized Therapeutic Program. Di ruanganku, temanku harus memegang beberapa anak sehingga aku tak ingin mengganggu. Aku turun dan memilih perpustakaan untuk bekerja karena ruang workshop sedang rusak pendingin udaranya sehingga tak menjadi pilihan yang menyenangkan.
Sesekali aku bercanda dan bercerita kepada dua temanku yang ada di situ. Terkadang aku juga bertanya kepada mereka, apa yang menyebabkan mereka mau bergabung di bidang ini. Aku juga teringat suatu masa ketika aku mempresentasikan sebuah program edukasi musik kepada pengurus musik di gereja. Ada satu pertanyaan yang jujur sampai kini aku tak tahu jawabannya. Pertanyaannya sederhana, “Mengapa kamu, di usia yang masih terbilang muda, mau bekerja pada bidang ini?” Om ini bertanya setelah mendengar presentasiku yang penuh dengan cerita pengalaman. Orang ini adalah sebuah direktur perusahaan besar. Saat ini, aku terdiam sebentar dan hanya menjawan, “Saya tidak tahu kenapa Tuhan memanggil saya di bidang ini, tapi saya rasa inilah yang Tuhan ingin saya kerjakan.”
Tiba-tiba teriakkan kencang terdengar dari samping ruangan. Sontak kami saling melempar pandang, siapa yang marah itu. Lalu kemudian menganalisa guru yang ada bersama dengan sang anak. Setelah itu kami sedikit lebih tenang dan melanjutkan aktivitas kami. Tak berapa lama salah satu temanku dipanggil temanku yang lain. “Sudah jam 11.15, Bu.. Kelambatan 5 menit itu.” Aku ikut membereskan barang-barang dan masuk ke ruang audio visual. Kutemukan muridku dan temannya sedang duduk menonton. “Wah cantik sekali kamu hari ini, rambutnya dikuncir dua.” Kupuji muridku yang hari itu rambutnya berbeda. Akan kutemui dia hari itu jam satu.
Makan siang berlangsung cukup nikmat. Sajian hari ini sangat melimpah dan enak. Aku lalu berpikir apakah ada pertemuan atau rapat hari ini. Ternyata tidak ada. Hanya ada nanti sore. Aku melanjutkan santai sore sambil menunggu jam satu.
Kuajak muridku naik ke lantai tiga untuk mengikuti terapi musik. Perlahan ia menaiki tangga, tapi sudah jauh lebih cepat dari dua tahun lalu. Ia kemudian mengetik di gadgetnya mengenai ceritanya pergi dengan mama hari Sabtu kemarin. Ia lalu bertanya apakah aku sudah makan dan apakah makanannya enak. Ia lalu meminta bermain biola bersama. Setelah bermain biola, ia mengetik sesuatu yang membuatku geli sendiri. Ia berkata, “Bu tau ga masih utang A*** buat lagu tentang tupai”. Memang beberapa minggu lalu aku memintanya membuat lirik dan berjanji untuk membuatkannya menjadi lagu. Aku sudah berjanji dengan temanku yang tergabung dalam tim musik untuk membuatkannya lagu. Akhirnya aku membuatkannya saat itu juga dan melihatnya senang serta ikut bernyanyi walau pelafalannya jauh dari kejelasan.
Setelah selesai, aku menulis buku penghubung dan mengijinkannya bermain piano. Ia bermain piano sambil bersenandung yang kalau kudengarkan seksama, sepertinya lagu “London Bridge” atau lagu tentang tupai tadi itu. Aku hanya menatapnya dan memperhatikannya dengan seksama. Ya, muridku jauh berkembang dari pertama kali memegangnya. Ia didiagnosa down syndrome trisonomy 21. Lalu aku tersenyum dan mengajaknya turun. Ia senang sekali dan tertawa-tawa.
Tak lama aku harus membantu kelas. Mereka sebagian besar menderita cerebral palsy. Mereka sedang belajar membuka dan memasang baju serta mengenal huruf. Setelah selesai, aku harus membantu dalam ensamble musik. Murid yang kupegang sebenarnya sudah bisa tetapi hari itu sepertinya kurang fokus. Ya beginilah anak-anak ini kataku dalam hati.
Sore itu ditutup dengan pertemuan besar dimana mempresentasikan konsep acara natal. Lucu dan menyegarkan sekali melihat teman-teman yang menggantikan murid-murid untuk mencoba drama itu. Kami memang harus berjuang lebih keras untuk memikirkan acara dimana anak-anak bisa terlibat tetapi juga berkonsep baik.
Waktu sudah setengah enam lewat ketika akhirnya kami pulang. Senang rasanya mendapatkan satu burger sebagai “oleh-oleh”. Ah aku lelah sekali hari ini tetapi aku tidak lelah hati. Hanya lelah fisik. Begitulah pekerjaanku. Aku seorang terapis musik untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Aku juga mengajar di kelas musik mereka serta membantu sebagai prompter di beberapa kelas.
Aku tahu pekerjaanku berat dan banyak harga yang harus kubayar. Tetapi bukankah hidup akan lebih bermakna ketika kita menyentuh mereka-mereka yang luar biasa dan mungkin tersisihkan? Bukankah hidup menjadi berharga ketika kita bisa menyentuh kehidupan orang lain?
Pssttt.. Aku harus tidur. Besok aku harus berangkat lagi! ![]()